"nah..ini niy pemain yang akan menjadi andalan timnas kita di masa depan..", celoteh saya beberapa tahun silam. tapi sekarang saya akan menguburnya dalam dalam.
saya akan katakan disini, bahwa saya dan mungkin sebagian besar pencinta sepak bola di tanah air kita ini, kembali dibuat kecewa oleh sepak bola di negeri ini...
saya menjadi semakin yakin bahwa sepak bola di negeri kita tercinta ini bukanlah sepak bola yang manusiawi, dan bagi saya sepak bola yang tak manusiawi bukanlah sepak bola!!! sebenarnya inilah yang menjadi kekhawatiran saya sejak lama...
Jumadi Abdi..Dialah pemain potensial yang saya maksud, beberapa kali melihat performanya di lapangan hijau membuat saya terkagum. Dia adalah sosok pesepak bola berbakat yang menggabungkan semangat daya juang yang tinggi dengan tingkat agility yang mempesona. Tapi kini saya tak akan bisa melihat semua itu lagi...
benturan yang dialaminya kala klubnya PKT Bontang bersua Persela Lamongan di Stadion Mulawarman, Bontang, Sabtu (7/3) di lanjutan ajang Liga Super Indonesia, membuatnya menghembuskan nafas yang terakhir.
di indikasi bahwa usus halus Jumadi yang bocor mengakibatkan kuman yang kemudian meninfeksi dan merusak sejumlah organ vital bagian dalamnya. hmm...kita kehilangan nyawa saat melakukan sesuatu yang kita cintai??? IRONIS!!!
APAKAH SAYA TERKEJUT? sebenarnya tidak juga! sekarang saya tanya kepada anda...
berapa kali anda lihat wasit kita membiarkan tekel tekel kasar terjadi?
berapa kali anda lihat wasit kita tidak mencoba menegur pemain yang melakukan tekel berbahaya tersebut?
berapa kali anda lihat wasit membiarkan emosi pemain meluap luap tanpa berusaha ubtuk meredakannya?
mungkin sebagian dari anda akan menjawab sama seperti saya yaitu, sering kali!!!
tanpa berusaha untuk menyudutkan salah satu pihak (karena bagi saya pribadi elemen satu dengan yang lainnya saling berkaitan) saya kira kualitas wasit di kompetisi sepak bola kita bukan lagi pada tahap memprihatinkan tapi sudah sampai pada tahap yang memalukan!!!
kesalahan kesalahan yang bagi saya sangat konyol acap kali dilakukan oleh para pengadil di lapangan hijau tersebut. saya akan sedikit membiaskan kesalahan mereka...
tuan rumah acap kali mendapatkan hadiah pinalti, jarak penendang bebas dengan pagar betis yang tak pernah sesuai, pemain yang jelas jelas mengejar bola dari belakang pemain lawan dianggap offside dan masih banyak lagi yang terlalu menggelikan untuk dibahas satu per satu.
inilah salah satu elemen mendasar dari sepak bola yang tampaknya telah dilupakan oleh orang orang di PSSI yang bagi mereka mengumbar keoptimisan untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia lebih bernilai dari pada memperhatikan dan membenahi hal hal yang justru mendasar dalam sepak bola. menonton sepak bola di Indonesia bagi saya bukanlah seperti menyaksikan pertandingan olah raga tapi lebih kepada bagaimana saya melihat puluhan, ratusan, ribuan atau bahkan lebih anak anak manusia berbondong bondong ke stadion sepak bola untuk mempertaruhkan nyawanya.
saya berharap apa yang menimpa Jumadi Abdi akan menyadarkan kita semua, membuka mata kita lebar lebar bahwa tak usah kita bermimpi terlalu jauh untuk menyelenggarakan pentas akbar seperti piala dunia jika mementaskan kompetisi sepak bola didalam negeri saja kita tidak becus...
dan sekali lagi kita telah melangkah mundur...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar