Senin, 15 Agustus 2011

in my humble opinion

ditulis pada tanggal 30 mei 2009



“Jangan pernah melakukan suatu hal hanya karena ingin meraup puja puji orang banyak”, inilah satu hal yang coba saya tanamkan di dalam hati setiap waktu. “cobalah untuk lebih percaya pada apa yang hati kamu katakan”, satu pesan syarat makna yang acap kali saya temui di dalam buku yang saya baca, dengan susunan kata yang berbeda beda tentunya.

Apa yang ada didalam benak anda ketika mendengar karena alasan gengsi seseorang rela bermacet macet ria dari halte karet ke plasa semanggi dengan mercinya, ketimbang menggunakan busway misalnya yang akan bisa mengantarkan ia dengan jauh lebih cepat? Atau pernahkah anda mendengar sebuah kisah di negeri arab sana yang menceritakan tentang orang orang yang tidak meraih kebahagiaan hanya kerena terlalu banyak mendengar ocehan orang orang lainnya?

“Final nanti malem? Semua tergantung sama MU!”, itulah jawaban saya atas pertanyaan seorang teman yang menanyakan tentang siapa juara Final Liga Champions 2009, yang telah usai beberapa waktu yang lalu dan menghadirkan Barcelona sebagai juaranya.

Mengapa demikian? Karena bagi saya pribadi MU sebenarnya memiliki semua kualitas untuk mempercunadangi tim asal Spanyol tersebut. United memiliki dua kekuatan pada lini pertahanan dan juga serang balik mereka yang tangguh dan cepat. Kualitas yang saya yakin diakui oleh para penggila sepak bola lainnya di seluruh penjuru dunia. Seperti apa yang dikatakan legenda MU sendiri, Eric Cantona “inilah tim terkuat yang pernah dimiliki Ferguson!”, dan dipertegas pula oleh legenda sepak bola Inggris, Gary Lineker “saya memilih United murni karena mereka lebih kuat dalam pertahanan”.

Kenyataan bahwa MU memiliki kualitas pada pertahanan dan counter attack yang lebih baik daripada Chelsea, tim yang begitu merepotkan mereka di semi final Liga Champions, bahkan hampir membuat seorang Pep Guardiola menyerah, disadari benar oleh Barca. Karena faktanya pada semi final tahun lalu, di ajang yang sama, MU berhasil menaklukkan mereka dengan gaya bermain defensif yang dibarengi dengan keunggulan pada dua kekuatan yang Setan Merah miliki tadi.

Walau keoptimisan tetap diumbar layaknya seorang petarung yang siap memasuki arena pertempuran tapi tak bisa dipungkiri kualitas MU memang membuat Barca sedikit panik kalu tidak mau dikatakan takut. Ini tersirat dari apa yang diutarakan oleh andalan mereka Lionel Messi sebelum Kick Off dimulai, “tak diragukan lagi, ini akan menjadi sebuah pertarungan terbuka, sebuah Final yang hebat”, sebuah pernyataan yang saya yakin Messi sendiri ragu pada apa yang ia katakan. Apa yang menjadi jaminan Setan Merah akan memainkan sepak bola terbuka, jika dengan cara yang defensif Barca bisa ditaklukkan? Atau ucapannya itu adalah sebuah jebakan agar tim dengan reputasi dunia seperti MU memilih untuk bermain terbuka pula?

Tapi apa yang terjadi? Saya tidak tahu apakah jebakan tadi berhasil atau tidak, tapi yang pasti MU bermain diluar prediksi orang banyak, Di awal pertandingan mereka bermain sangat agresif, ofensif, menggebrak dengan liar dan melakukan pressing yang ketat, kalau boleh saya bilang sebuah strategi yang konyol, karena dengan cara bermain seperti itu terbukti tidak ampuh untuk menjinakkan tim sekelas Barca! Bayangkan dengan reputasi yang sama sama mendunia, tim tim yang cenderung ofensif seperti Bayern Muenchen dan Real Madrid dibuat tak berdaya oleh Barcelona dengan skor yang sangat memalukan. Justru Barca yang tampil lebih hati hati dan sabar, sebelum akhirnya melalui sebuah serangan balik yang cepat dari Iniesta dan Eto,o membuyarkan semua rencana Sir Alex, anak buahnya bermain tak karuan, penuh dilema baik disaat menyerang maupun bertahan yang membuat mereka lebih banyak berlari mengejar bola di kaki pemain pemain Barcelona. Sementara Barca, dengan satu kejeniusan tadi semua menjadi lebih mudah bagi mereka untuk menjadi diri mereka sendiri. Passing passing pendek yang mengagumkan, skill individu yang berkelas dan penguasaan bola yang luar biasa, secara alami hadir di stadion Olimpico, Roma. Sebuah cara bermain yang telah menjadi identitasi tim dari Spanyol tersebut selama berpuluh puluh tahun itu pula yang akhirnya membawa mereka menjadi juara di ajang paling bergengsi di seluruh dunia itu. Barcelona memang pantas mendapatkannya, karena bermain dengan apa yang mereka percaya, sebuah gaya yang telah menyatu didalam diri mereka.

Semoga kekalahan MU murni karena kesalahan strategi belaka dan bukan karena mereka beranggapan “ini sebuah ajang bergengsi, Final yang disaksikan oleh seluruh dunia dan karena kami adalah juara dunia dan kami ini adalah Manchester United yang akan memainkan sepak bola yang lebih indah dari Barcelona!!!”

Karena tak bisa dipungkiri bahwa yang akan lebih diingat orang hanyalah mereka yang keluar lapangan sebagai pemenang dan karena sejarah hanya mencatat para juara tak peduli gaya apa yang mereka tampilkan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar