Hari ini seperti biasanya saya memulai hari dengan membaca salah satu surat kabar nasional, yang telah menemani pagi saya dari beberapa bulan yang lalu sejak bapak saya memutuskan untuk berlangganan surat kabar terkemuka tersebut.
Dan seketika mata saya terbelalak lalu dibarengi dengan ribuan tanya yang secara tiba tiba tanpa diundang hadir ke alam pikiran saya saat itu. Salah satu artikel di surat kabar tersebut yang berjudul “sepak bola negatif dan klinsmann” adalah penyebabnya...
Tulisan dari saudara Anton Sanjoyo yang intinya membahas tentang kekecewaan terhadap sepakbola bertahan atau yang lebih sering kita kenal dengan nama cattenacio, sebuah sistem permainan bertahan yang rapat, kolektif dan cenderung menunggu..menuggu kelemahan, kelengahan dan kesalahan lawan dan ketika itu terjadi serangan balik yang cepat pun dilakukan.
Sebuah cara bermain yang dianggap pengecut dan cenderung dibenci oleh sebagian besar orang diluar sana yang memegang erat prinsip bahwa “pertahanan terbaik adalah menyerang”…tapi itu tidak berlaku bagi saya. Itulah sebabnya kenapa ketika Fabio Cannavaro berhasil mengalahkan Zinedine Zidane dalam perebutan pemain terbaik dunia 2006 saya pun girang bukan main! Ini bagi saya ibarat sebuah oase ditengah jarangnya para pemain belakang meraih gelar bergengsi tersebut. Karena mata mata saya ini lebih terbiasa menyaksikan panggung sepakbola italy yang memang kental dengan permainan bertahannya ketimbang menyaksikan sepakbola ala Spanyol, Inggris, Brazil atau Argentina yang lebih suka menampilkan sepakbola menyerang nan atraktif yang secara sempurna dipraktekkan oleh tim orange belanda dengan total footballnya pada Piala Dunia 1974. agresif dan menekan, baik itu saat menyerang maupun saat diserang!
Yang menjadi pertanyaan saya apa yang salah dengan cattenacio? Apakah suatu dosa jika sebuah tim sepakbola menerapkan cara bermain seperti itu untuk meraih kemenangan? Apakah itu melanggar sikap Fair Play?
Ketika Anton Sanjoyo mencoba mengkritik secara halus tentang cattenacio yang diterapkan oleh Guus Hiddink dan anak buahnya hingga mampu menahan imbang 0-0 Pep Guardiola dan Barcelonanya, saya pun tidak berkeberatan, tapi ketika Ia mulai mengaitkan apa yang dilakukan Guus Hiddink dengan sebuah sepakbola kapitalisme yang mementingkan hasil akhir ketimbang keindahan bermain bola saya menjadi tidak setuju…
Bukannya saya anti terhadap sepakbola menyerang, jujur, saya pun sebagai penikmat sepakbola senang, kala melihat ronaldinho menari nari di lapangan, kagum ketika si kecil messi dengan ajaibnya menggiring dan melindungi bola dari terjangan bek bek lawan, ketika ronaldo dengan trik triknya yang luar biasa mempecundangi lawannya secara berulang ulang, saya takjub dengan itu semua…
Saya pun mengerti dengan apa yang dirasakan para penikmat sepakbola yang pasti ingin melihat tim kesayangannya menang dengan cara yang mempesona…
Walau sedikit berbeda...saya akui saya pun demikian, betapa kecewanya saya, marah dan kesal ketika melihat tim idola saya Milan dibuat mati kutu, hilang akal dan tak berdaya oleh cara bermain tim seperti Palermo, Torino, Catania dan banyak tim tim semenjana lainnya di Seri A, yang bertahan secara ketat, rapat dan disiplin menjaga daerahnya. Tapi bagi saya apa yang dilakukan mereka lebih kepada sebuah strategi dan langkah antisipasi untuk menghadapi lawan yang dirasa memilik serangan tajam dan mematikan seperti Barcelona contohnya, ketimbang beranggapan bahwa ini adalah refleksi sebuah sepakbola yang kapitalis!!!
Dan saya pun semakin meradang dan bingung ketika dalam akhir tulisannya saudara Anton Sanjoyo menulis “yang tega memainkan sepakbola negatif”, apa yang dimaksud dengan tega??? Merujuk pada apa yang dikatakan Rinus Michels “sepak bola bukanlah arena pertemanan tapi ajang peperangan”, bukankah di dalam perang kita membutuhkan sebuah taktik dan strategi yang bisa mematikan lawan seperti yang ditunjukkan oleh para pahlawan kita dengan gerilyanya, apakah kita pantas menyebutnya sebagai pengecut? dan tentu di dalam perang tidak pernah mengenal kata tega walau di dalam konteks sepak bola harus tetap ada batasnya yaitu Fair Play.
Jika Michel Francois Platini pernah mengatakan “sepakbola mengajarkan kita cara hidup. Cara berbagi jika anda lebih baik dari orang lain”, maka saya akan mengatakan “sepakbola mengajarkan orang orang kecil cara menang. cara bertahan dengan baik ketika lawan yang lebih besar menyerang dan cara memukul balik begitu lawan lengah dan ada kesempatan!”, hahahaha... Forza Calcio!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar