ditulis pada 21 november 2010
Terkadang kita terlalu sibuk mencari seorang tokoh diluar sana untuk dijadikan panutan dalam hidup dan berkarya dan tak menyadari bahwa inspirasi sebenarnya ada dimana mana terutama di sekeliling kita..
Lahir 20 oktober 1950 di sebuah kota di kalimantan timur, pria yang cenderung jarang bicara ini mengaku dahulu sewaktu ia muda cukup menggemari fotografi, namun memilih untuk tak menjadikan hobinya tersebut sebagai mata pencahariannya, karena ternyata ia lebih memilih untuk bekerja saja di kantoran sebagai pegawai di sebuah perusahaan milik negara.
Sebuah pekerjaan yang kemudian memaksanya untuk lebih sering memboyong keluarganya dari satu kota ke kota lain, sampai akhirnya menetaplah mereka cukup lama disebuah kota yang terhitung kecil dipulau Jawa bagian barat. Sempat mendapatkan tawaran untuk bertugas di salah satu kota di negeri paman sam, namun ternyata di kota kecil inilah dia takdirkan mengakhiri masa kerjanya di usia 55 tahun.
Di kota ini pula yang saya ingat dimana ia menyemangati saya yang tengah frustasi karena merasa tak memiliki cukup bakat dalam berfotografi. Dengan pembawaanya yang khas, ia mengambil selembar foto yang terselip diantara tumpukan foto foto yang saya anggap tak keren saat itu dan memandanginya cukup lama, “gimana kamu bisa dapet moment ini ki?”, katanya sambil tersenyum. Sebuah foto yang saya ingat hanya menampilkan segaris asap asap putih yang mencoret langit pagi yang biru yang mendominasi hampir 90% frame. Kata kata ini mungkin bukan pujian setinggi langit tapi cukup membuat saya untuk selalu percaya pada satu hal yang sering kali diremehkan dalam sebuah pencapaian, proses.
Tidak seperti ‘guru guru’ saya yang lain yang menanamkankan saya untuk tetap menjadi berbeda dan unik, sederhana saja..mengikuti kata hati dan menjadi diri saya sendiri baginya adalah yang jauh lebih penting dari itu semua.
Pria yang begitu bersemangat kalau sudah berbicara tentang masa kecilnya ini memang bukanlah seorang fotografer apalagi berprestasi di dunia itu, terhitung hanya satu lomba foto yang pernah ia ikuti dan menangi, lomba foto di perusahaan tempat dia bekerja.
Tapi pria yang mewariskan kamera yashica analognya pada masa awal saya belajar foto inilah yang mengajarkan saya pertama kali berfotografi dan berjasa besar membuat saya sampai sebegitunya mencintai jalan ini seperti sekarang.. Seorang pria sederhana yang entah mengapa sebenarnya ingin sekali saya panggil dengan sebutan Bapak, ketimbang Babeh, Daddy, Ayah atau Papa.
Beberapa hari ini saya sibuk membongkar lemari untuk mencari album album foto lawas yang sengaja ia simpan dan menemukan beberapa foto dibawah ini yang saya sangat sangat suka…
Semoga saya yang tak terlalu pandai membuatnya bangga ini suatu saat bisa membuatnya tersenyum disana..bagaimana dengan pameran di eropa Pak? Ketinggian yak? Hhe..di Aminin aja ya Pak..Amiiin..
Teman2, mari temani saya bermimpi..yuu :-)
(Abdullah Alhamidy, 1950-2010)
Senin, 15 Agustus 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar