“Kemenangan Persipura ini mengangkat drajat kami orang Papua”, ujar Markus Haluk, ketua Aliansi Mahasiswa pegunungan tengah Papua. ungkapan yang saya kutip dari salah satu surat kabar Nasional Ini adalah sebagian kecil gambaran dari betapa meriahnya euforia rakyat Papua terhadap keberhasilan tim sepakbola mereka Persipura, yang menyabet gelar juara Liga Super Indonesia 2009.
Ternyata bukan keindahan alam, yang memang kurang mendapat perhatian untuk dikembangkan lebih baik, bukan pula kemewahan budaya yang terkenal hampir diseluruh penjuru negeri ini yang bisa mereka banggakan saat ini dan tentu jelas, kemiskinan, ketertinggalan, penindasan dan kerusuhan tidak termasuk dalam kategori hal hal yang bisa dibanggakan, melainkan sepakbola! Keberhasilan Persipura telah memberikan kebanggaan dan kebahagiaan bagi orang orang di tanah Papua yang mungkin sudah lama mereka nantikan.
Saya yakin moment ini saat yang paling tepat bagi warga papua untuk bergembira sebebas bebasnya dan sejenak melupakan segala persoalan persoalan hidup yang memusingkan kepala. “karena saya percaya sepakbola memiliki daya magis yang luar biasa untuk membuat orang bahagia dan bangga”, ujar Andibachtiar Yusuf, salah satu sutradara berbakat yang dimiliki negeri ini, di salah satu tulisannya.
Saya juga adalah orang yang sangat percaya bahwa sepakbola dapat memberikan kita kebahagiaan bahkan lebih besar lagi yaitu, kesejahteraan hidup suatu Bangsa. Karena sepakbola yang digemari sebagian besar penduduk dunia ini sanggup membuat suatu daerah atau Negara yang tak pernah didengar sebelumnya, muncul untuk kemudian dikenal oleh dunia.
Benarkah?ya…dulu sebelum Piala Dunia 2006 berlangsung tidak banyak yang tahu bahwa ada Negara bernama Togo di dunia ini, termasuk saya sendiri. Jika bukan karena sepakbola, saya juga mungkin tidak akan pernah tahu ada Negara bernama Samoa, Fiji, Rwanda, Latvia, Luxsembourg, Uganda, Angola, Trinidad & Tobago, Liberia, Tonga dll, jika bukan karena sepakbola saya mungkin tidak akan pernah tahu ada kota bernama Sedan, Murcia, Rostock, Bari, Tirana, dan mungkin saya juga tidak akan pernah tahu bahwa di Negara kita ini ada daerah yang bernama Bolaang mongondow di Sulawesi utara, Maros di Sulawesi selatan, Sorong di papua. Apalagi ada daerah yang namanya mirip dengan nama sebuah makanan, parepare, pun saya mungkin tidak akan tahu.
“pa, aku mau ke papua ketemu Boaz”, ujar seorang bocah kepada bapaknya. Ucapan yang terdengar polos memang, tapi tidakkah itu terasa luar biasa ketika keluar dari mulut seorang anak kecil pada saat ia menyaksikan pertandingan sepakbola?
Itulah yang sebenarnya saya harapkan terjadi pada Negara kita ini. Saya berharap melalui sepakbola Negara kita bisa dikenal oleh Bangsanya sendiri, lebih lebih oleh Bangsa lain diluar sana. Setelah berbagai upaya yang kita lakukan melalui berbagai bidang untuk memperkenalkan Indonesia pada dunia, alangkah baiknya untuk lebih maksimal lagi, jika ditempuh pula dengan jalan sepakbola?
Karena sepakbola memang aneh bin ajaib, bahkan Terence Ward dalam bukunya yang berjudul “The Hidden Face of Iran” sempat mengungkapkan kekagumannya pada olahraga ini dalam satu paragraf “permainan sederhana menendang sebutir bola kesana kemari ini telah mengambil hati seluruh penduduk dunia, bahkan dikota kecil seperti Abarqu. Bola kotor ini berhasil menghubungkan lebih banyak orang daripada sebuah pesawat telepon seluler. Permainan ini telah mencapai setiap sudut dunia. Dipahami oleh setiap bahasa dan lebih mengglobal daripada Big Mac”.
Tapi saya merasa harapan ini seperti membentur sebuah pintu raksasa dengan spanduk besar bertuliskan “dilarang masuk bagi pencinta sepakbola!!!”. Keinginan saya yang ingin melihat sepakbola dapat menjadi penyelamat bagi negeri kita, seakan menguap dari waktu ke waktu. Mulai dari kompetisi sepakbola yang carut marut yang berdampak pada prestasi yang semakin jauh dari jangkauan, sampai dengan persepsi liar saya yang beranggapan bahwa Bangsa ini memang tidak pernah sunguh sungguh mencintai sepakbola apalagi menghargainya!
Beberapa waktu yang lalu sebenarnya saya cukup girang ketika mendengar kabar akan rencana kedatangan tim dengan reputasi dunia seperti Manchester United, pada pertengahan bulan Juli ini. Membayangkan betapa banyaknya mata yang akan menyaksikan laga tim Indonesia kita melawan Juara Eropa 2008 itu, membuat saya merinding, inilah saatnya bagi kita untuk menunjukkan pada dunia siapa kita, tentu bukan pada tahap kualitas yang memang masih berbeda tapi lebih kepada bagaimana usaha terbaik kita untuk memperkenalkan Indonesia pada dunia, melalui sepakbola.
Tapi kemudian kegembiraan itu berubah menjadi ketakutan dan keprihatinan, takut setelah mendengar kabar akan digunakannya Stadion Gelora Bung Karno (yang rencananya akan digunakan untuk laga itu) sebagai tempat berkampanye para calon calon pemimpin negara ini dalam pemilu Presiden mendatang. Bahkan seorang kawan berceloteh kepada saya “Mau taro dimana muka Bangsa ini?”. Kekecewaan ini tentu merujuk pada betapa malunya dia pada kejadian setahun yang lalu yang mungkin sebagian dari anda juga masih mengingatnya, kala rumput Stadion ini rusak parah sehabis menyelengarakan sebuah event, yang justru tidak ada sangkut pautnya dengan sepakbola.
Dan prihatin, saat mendengar stadion kebanggan kita itu, ternyata akan digadaikan oleh pemerintah, untuk sebuah pinjaman luar negeri!!! stadion yang didirikan Bung Karno demi sebuah Negara yang Ia cintai ini, demi menampik segala pelecehan Bangsa lain terhadap Bangsa ini, ternyata tidak dianggap sebagai suatu yang pantas dibanggakan bagi para penerusnya kini. Atau persepsi liar saya memang benar bahwa kita bukanlah Bangsa yang sungguh sungguh menghargai sepakbola?
Tampaknya bagi mereka yang belum percaya bahwa sepakbola memiliki pengaruh yang luar biasa besar bagi keberlangsungan hidup umat manusia, harus segera menyadari bahwa sepakbola adalah Malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk menyebarkan kebahagiaan bagi kita semua didunia. Seperti apa yang dikatakan seorang Albert Camus “apapun yang saya ketahui soal moralitas, saya berhutang pada sepakbola…”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar