ditulis pada tanggal 29 March 2009
Terkadang sebagai manusia kita mengharapkan hidup yang sempurna, bisa menjadi orang kaya dengan segala kekuatannya yang dapat melakukan apa yang orang lain tak mampu melakukan, menjadi seorang musisi terkenal dengan segala kemahirannya yang mampu mencipta decak kagum ribuan kaum hawa, atau menjadi seorang penulis besar yang bukunya laris dipasaran bak kacang rebus di sebuah alun alun kota, atau menjadi seekor burung yang bisa terbang kemana yang dia suka, yang bebas, yang lepas, yang selalu bernyanyi dengan bahasa yang sesungguhnya tak pernah saya mengerti.
Di sebuah warung internet di suatu sudut di ibu kota yang hiruk pikuk ini, seorang teman pernah mengatakan, “asli, enak banget hidupnya Paris Hilton, kga usah kerja juga duitnya kga abis abis, coba aja gw bisa kae gitu..”, di dalam hati saya tersenyum bingung, “lah, lo kan cowo koq mau maunya jadi paris Hilton?”, dan kemudian sayapun bertanya,”emang enak jadi paris Hilton? Bukannya jadi sorotan kamera tiap hari bikin Bete tuh? Semua apa yang kita lakukan diketahui orang banyak, iya klo yang baik baik yang disorot, gimana klo lagi ngupil, lagi buang air, mandi, tidur, bukannya risih tuh?? Dan hal hal yang kae gitu menjadi tontonan masyarakat setiap waktu…”, “ah, bodo gw siy, yang penting gw jadi orang kaya bisa pergi kemanapun dan beli apapun yang gw mau..hahaha”, jawab teman saya itu. Saya tidak bermaksud merendahkan apalagi menyalahkan apa yang ada dalam pikiran teman saya tesebut karena saya akui saya pun demikian. Karena kita manusia telah terbiasa atau selalu dijejali oleh media massa untuk berkiblat pada hidup yang konsumtif, materi kemewahan yang diracun ke dalam pikiran kita setiap saat, membuat kita lupa bahwa sesungguhnya bersyukur atas apa yang kita miliki adalah hal yang paling dibutuhkan oleh kita dalam hidup ini.
Hal ini kemudian mengingatkan saya pada satu film yang beberapa waktu lalu saya tonton di rumah untuk kesekian kalinya, being john malkovich. Film yang jujur sebenarnya cukup sulit dinikmati oleh orang yang tak terlalu maniak akan film seperti saya, film yang intinya bercerita tentang seorang seniman jalanan berbakat yang bernama Craig Schwartz (John Cusack) yang menemukan sebuah pintu rahasia, pintu untuk masuk kedalam tubuh seorang actor ternama bernama John Malkovich (John Malkovich). Kemudian setelah dirinya masuk kedalam tubuh John, kehidupannya pun berubah, ia menjadi terkenal, memiliki segalanya sampai sampai ia mampu mendapatkan seorang wanita yang dicintainya, Maxine (Catherine Keener) yang sebelumnya jelas jelas tidak menyukainya..dan mereka pun hidup bahagia di dunia yang sesungguhnya bukan milik mereka. Sampai suatu ketika Maxine diculik dan penculik itu memintanya untuk meninggalkan tubuh John Malkovich, lalu apa yang dikatakan Craig? “ but I cant do that..if I leave John Malkovich then I’m Craig Schwartz again, no money, no career..Maxine will have nothing to do, She barely has anything to do with me now..”. walau kemudian dia meralat semua ucapannya dan bersedia meninggalkan tubuh John tapi sayang semua sudah terlambat dan dia pun kehilangan segalanya…
Secara naluriah saya pun merenung dan berpikir, untuk mendapatkan uang dan mempertahankan status “orang kaya” dalam dirinya, seseorang rela menyingkirkan apapun yang menghalanginya dan termasuk menyakiti hati orang orang yang sunguh sunguh menyayanginya.
Seminggu yang lalu saat saya sedang menanti angkutan umum di suatu halte dalam sebuah perjalanan untuk kembali kerumah, seorang pengamen yang kira kira seumuran dengan saya, memberikan saya satu pelajaran tentang hidup, “nih..boy rokok ga lo?”, “ga deh..buat lo aja ntar, lagian gw uda ga ngerokok…uda berapa lama ngamen?”, “dari kecil gw juga uda ngamen kali..”, “gimana penghasilan?”, “yah, lumayanlah..yang penting happy kali, ya ga boy?”. Pertanyaan yang hanya bisa saya jawab dengan senyuman dan lantas membuat saya bertanya pada diri saya sendiri, bisa ga ya saya berpikir seperti itu??? seperti kata seorang tokoh dalam film yang saya lupa namanya, “hiduplah dengan hidupmu dan kau tidak akan menyesalinya..”
Senin, 15 Agustus 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar