Senin, 15 Agustus 2011

Generasi Mudapun Akhirnya tak Berdaya

Dua hari yang lalu saya bertemu dengan seorang teman, sebenarnya kami berdua belum terlalu akrab dan jujur sebelumnya segala opini negatif tentangnya begitu sesak di pikiran saya sampai akhirnya di sebuah halte bus, ditengah hujan yang begitu deras turun menghujam bumi ini, diantara kesibukan kendaraan kota yang berlalu lalang, perbincanganpun mengalir begitu lancar, selancar tetesan hujan kala itu. Perbincangan yang benar benar membuka mata saya lebar lebar, bahwa kita tak bisa menilai salah terhadap suatu keputusan yang diambil oleh seseorang, karena seburuk apapun pilihan yang diambil pastilah merunut pada sebuah alasan yang terkadang juga tidak sederhana. Di sore yang gelap itu, saya mendengar curahan hati seorang anak manusia tentang hidupannya, hidup yang sangat mengharukan batin saya. Di saat teman teman seusianya melanjutkan pendidikan ke perguruaan tinggi ia terpaksa mengubur impiannya menjadi seorang dokter karena keadaan ekonomi orang tuanya yang tidak memungkinkan saat itu..selain dia orang tuanya juga harus membiayai empat orang anak lagi yang masih bersekolah dan sebagai anak sulung ia mencoba mengerti walau berat, bahwa adik adiknya juga memiliki hak yang sama untuk bersekolah setidaknya sampai lulus SMA sama seperti dia. “kalo lagi ngumpul gw suka iri sama temen temen, gimana mereka bercerita tentang kehidupan perkuliahannya, temen baru, gebetan baru dsb.”,katanya sambil tersenyum(senyum yang menyiratkan pilu).

Sekarang dia telah bekerja di perusahaan yang bergerak dibidang jual beli mobil untuk membantu ekonomi orang tuanya. Setelah dua minggu berada di perusahaan itu, ia langsung diangkat menjadi sekertaris, dengan gaji yang menurut dia cukup untuk membantu melanjutkan sekolah bagi adik adiknya (teman saya ini berpenampilan menarik..dan termasuk anak yang cerdas). Sebenarnya dia merasa penempatan dirinya sebagai sekertaris sedikit mencemaskannya, tapi ia tak mau berprasangka terlalu jauh…
Benar saja apa yang dia khawatirkan akhirnya terjadi. Ternyata Ini hanya akal akalan Bossnya saja untuk bisa lebih dekat dengannya, sampai sering kali dia dipaksa untuk melayani hasrat seksual sang Bossnya tersebut.”kenapa lo ga ngelawan..?”,Tanya saya. “dia mengancam akan memecat gw klo gw berani macem macem dan gw ga mau hal itu sampai terjadi karena keluarga gw sangat membutuhkan bantuan gw..”,jawabnya sambil mengusap matanya yang mulai berair.

Kenapa ya hati ini selalu ngilu kala melihat dan mendengar lalu merasakan sebuah kerelaan yang bagi saya terasa begitu memilukan. Kerelaan yang Begitu berat dipikul di pundak seorang perempuan yang bahkan belum menginjak usia dua puluh, dimana dia harus merelakan harga dirinya sebagai seorang wanita di injak injak, yang dengan terpaksa melacurkan diri demi kebahagiaan keluarga walau dia sendiri tak bisa merasakannya…
“uang memang bukan segalanya tapi segalanya membutuhkan uang..”, kata teman saya itu, dengan raut wajah yang sedih . Ini kembali memerindingkan saya, ternyata begitu besarnya ketidakberdayaan kita kepada uang, karena uang akan membuat manusia melakukan apapun untuk meraihnya, uangpun bisa membuat hati manusia terbelenggu hingga lantas berbuat semena mena terhadap sesama manusia lainnya. Uang yang mampu membelah manusia menjadi dua golongan yaitu golongan kaya dan golongan miskin…

Ya…apalagi kalau bukan karena kemiskinan..!!
Kemiskinan adalah salah satu penyebab kenapa penderitaan di Negeri ini tak pernah ada ujungnya. Menularkan begitu banyak penyakit hingga menjadikan Negara berkembang ini, tak kunjung berkembang…
Kemiskinan yang telah merampas kebahagiaan sebagian besar bangsa ini…
Katanya harapan masa depan bangsa dan Negara ini ada pada tangan tangan generasi muda…
Tunjukan pada saya..!
Generasi muda yang seperti apa yang kalian maksud???
Yang rela menjual harga dirinya demi keberlangsungan hidup?
Yang rela menelanjangkan rasa malu kala mengais ngais sampah jalanan di antara langkah langkah yang angkuh?
Yang kulit halusnya kini legam hitam terbakar terik matahari?
Yang meredakan hausnya dengan meminum air sungai yang tak bisa lagi dikatakan jernih?
Atau yang seperti apa..??

Dari zaman saya bersekolah dulu, sering kali saya menemukan teman teman saya yang termasuk anak anak yang berprestasi, memutuskan untuk berhenti sekolah karena orang tuanya tak sanggup menanggung biaya sekolahnya yang sangat tinggi dan saya mendengar kabar bahwa mereka sekarang hanya bekerja menjadi petani, tukang becak, kuli bangunan dsb. Dengan penghasilan yang tidak seberapa. Tanpa mengecilkan profesi profesi tersebut, dalam hati kecil saya, saya yakin seandainya mereka dapat melanjutkan pendidikannya lebih tinggi lagi mungkin mereka bisa berbuat sesuatu yang lebih untuk bangsa dan Negara ini, bahkan untuk menjadi seorang Presiden sekalipun…

Dimana kita?
yang lantang menyuarakan kesejahteraan pada sesama manusia ini..
yang meremehkan arti sebuah harapan akan kehidupan bagi rakyat kecil...
kita yang kini hanya sibuk dengan kesejahteraan dunia kita masing masing…

Sesungguhnya Negara ini telah merugi, bagaimana kita kehilangan begitu banyak aset aset muda terbaik hanya karena ketidakmampuan kita untuk menciptakan kenyamanan bagi sesama manusia dalam memperoleh pendidikan.

Disamping itu semua…
Bagi saya inilah penting kita untuk bersyukur atas segala anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita, baik itu yang menurut kita kecil maupun yang besar…
karena sesungguhnya diluar sana, bahkan tak jauh dari kehidupan kita, kita bisa melihat dengan jelas bagaimana hidup orang orang yang kurang beruntung begitu memprihatinkan…
Bagaimana perihnya menjadi manusia yang serasa tak dimanusiakan… 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar