Senin, 15 Agustus 2011

semoga bukan pemilu yang memilukan

ditulis pada tanggal 15 april 2009



“Bey, ngapain kita nyoblos pas ntar pemilu? Kga ada gunanya! Yang miskin makin miskin yang kaya makin kaya..mending juga golput..”, kata seorang kawan beberapa waktu yang lalu. Saya beranggapan ini adalah suatu sikap skeptis yang wajar. Bagaimana tidak? Di tengah maraknya sikap apatis sebagian masyarakat terhadap hal hal yang berbau pemilu, orang orang yang terlibat didalamnya justru malah semakin memperkeruh suasana dengan berulah negatif di hadapan masyarakat kita, Caleg caleg yang terlihat tak kompeten, janji janji yang diumbar begitu gampangnya, kampanye yang memacetkan jalan, berujung kerusuhan, saling menjelekkan satu sama lain dan masih banyak lagi yang ujung ujungnya semakin memperkuat sikap apatis masyarakat terhadap pemilu kali ini.

Saya tak tahu apakah tulisan ini menjadi sangat penting untuk dibaca atau tidak, saya juga tidak bermaksud untuk gaya gayaan apalagi ketularan untuk menulis satu hal yang bernama politik, karena saya adalah orang yang tak terlalu menaruh minat lebih pada politik, yang lebih ramai disebut orang sebagai ladang persaingan yang licik dan kejam, ketimbang hal hal mulia yang tersirat didalamnya. Tapi satu hal yang saya dan sebagian orang awam paham adalah tujuan dari semua ini haruslah berujung pada kesejahteraan dua ratus juta lebih orang orang yang hidup di alam Indonesia ini.

Menyinggung soal kesejahteraan bangsa ini, saya jadi teringat pada satu kejadian yang terjadi beberapa bulan yang lalu jauh sebelum maraknya orang orang membahas tentang pemilu. Saat itu sehabis jam kuliah saya memutuskan untuk sejenak menenangkan pikiran, mata, hati dan telinga saya, tanpa pikir panjang sayapun langsung bergegas melangkahkan kaki kaki ini ke salah satu taman kota di Jakarta, kalau lagi suntuk suntuknya saya memang suka sekali menyendiri di taman kota, dimanapun itu. Sesaat setelah menapakkan kaki disana, saya pun memilih satu spot yang kira kira cocok untuk saya beristirahat menjauhkan diri dari rasa penat yang merekat. Dan mungkin karena saking lelahnya saya pun tertidur…

sampai kemudian dua bocah yang umurnya kira kira dibawah sepuluh tahun membangunkan saya dari tidur. “kenapa lo liat liat? Suka ya?”, guyon saya pada mereka, dan mereka pun membalas dengan senyuman lalu berujar “koq sendirian aja mas?”, “iya nih, temenin dong..hehehe”, jawab saya. Obrolan itu tanpa terasa mengalir begitu saja membawa kami berjalan mengelilingi sebagian sudut taman kota itu tanpa merasa lelah, dari obrolan yang akhirnya membuat saya tahu bahwa mereka sudah tidak bersekolah lagi sejak beberapa bulan yang lalu mungkin karena keadaan ekonomi orang tua mereka yang kritis, tebak saya saat itu, karena saya pun tidak yakin anak anak kecil yang polos seperti mereka mampu memberikan alasannya jika saya bertanya “kenapa” pada mereka…sampai dengan perlakuan kasar yang mereka terima dari petugas petugas yang menjaga kereta yang memang disediakan pengelola taman tersebut untuk para pengunjung agar memudahkan mereka mengelilingi dan menikmati taman yang luas tersebut, perlakuan yang tidak akan saya bahas disini karena bagi saya terasa sangat menyedihkan, apalagi untuk dialami oleh mereka yang memang masih bocah bocah…

Ya…inilah yang saya paham. Pemilu kali ini harus bisa melahirkan orang orang yang benar benar mau dan mampu memperjuangkan nasib bagi rakyat Indonesia termasuk didalamnya bocah bocah itu…dan sebagai warga Negara yang baik hendaknya kita ikut membantu agar demokrasi di negeri kita yang tercinta berjalan dengan sebagaimana mestinya salah satunya yaitu dengan cara ikut memberikan suara kita pada pemilu presiden mendatang.

ketika sebagian orang diluar sana memilih untuk menjadi golongan putih ditambah ketika teman saya yang saya singgung diatas kemudian melanjutkan ucapannya “tuh kan banyak yang golput! Dikira kita main main apa?”, saya pun menjadi bingung dan mengelus elus dada dan kemudian nurani saya pun bersuara…
pantaskah kita berbangga ketika sebagian besar bangsa ini menganga kelaparan?
Pantaskah kita berbangga ketika sebagian besar ibu ibu di negeri ini menangis karena tak bisa melindungi bayinya dari dingin malam?
Ketika bapak bapak pusing tujuh keliling karena anaknya meminta uang sekolah?
Ketika bangsa ini dihujami begitu banyak penderitaan?
Ketika bangsa ini semakin lemah tak berdaya? Pantaskah?

Bukankah mereka adalah orang orang berpendidikan yang memiliki sikap kritis yang baik dan tentunya mempunyai kriteria kriteria yang tinggi akan orang orang seperti apa saja yang pantas mengurus Negeri kita yang besar ini…?
Saya tahu ini merupakan hak mereka untuk memutuskan apakah akan memberikan suaranya atau tidak, tapi satu yang saya selalu percaya bahwa di dalam hak pasti tersirat kewajiban, yang dalam konteks ini adalah kewajiban kita sebagai bangsa Indonesia untuk bersama sama membantu negera yang kita cintai ini agar semakin berkembang lagi dan juga kewajiban moral kita sebagai manusia untuk membantu sesama manusia lainnya.

Seorang guru pernah mengatakan “lebih baik berusaha untuk melakukan suatu usaha perbaikan walau kemudian hasilnya gagal, daripada tidak sama sekali..”. untuk baris terakhir dari tulisan ini saya akan mengutip satu judul artikel di salah satu surat kabar terkemuka, yang saya baca beberapa waktu yang lalu yang kira kira berbunyi seperti ini “jauhi apatis, pilih dengan kritis”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar